

Wallacea Biennale
Wallacea Biennale berwujud proyek dan forum seni & kebudayaan dua tahunan kota-kota di lingkung wilayah Garis Wallacea sebagai siasat berjejaring dan metode bekerja bersama. Ini sekaligus kelanjutan program-program yang pernah dijalankan oleh tim 5 kota selama Makassar Biennale 2019 – 2024.
Garis Wallacea adalah satu definisi tentang karakter bentang alam spesifik yang berkait erat dengan ilmu & pengetahuan, praktik kerja dan bermain, nilai hidup dan kehidupan. Ini juga bermakna tentang kesamaan nasib dan kutukan dalam wilayah yang sama di peta politik dan kebijakan nasional.
Atas itu pula, Wallacea Biennale berlandaskan kerja hulu-hilir, dihidupkan dengan semangat vernakular, dan mobilitas melambat. Seluruh programnya mutlak melibatkan orang-orang muda, warga, komunitas, lembaga pendidikan, dan praktisi.
Program-Program Wallacea Biennale 2026
Maritim
2023
Makassar Biennale (MB) segera digelar dan dibuka pada 9 September 2023. Ajang seni rupa internasional dengan tema abadi Maritim ini akan berlangsung hingga 30 Oktober 2023. Agenda residensi, pameran, lokakarya, wicara seniman, simposium, dan beragam program lainnya akan diisi oleh seniman, praktisi, dan warga di lima kota, yakni Makassar, Pangkep, Parepare, Labuan Bajo, dan Nabire.
Berbeda dengan biennale lain di Indonesia, MB berlangsung di kota-kota di Indonesia Timur, tidak melaksanakan di satu titik saja. Menurut Direktur MB, Anwar Jimpe Rachman, model pelaksanaan MB yang dimulai sejak 2019 ini menjadi cara MB ikut berkontribusi pada perkembangan dan pertumbuhan dinamika kancah seni dan kebudayaan di Nusantara.
“Keterlibatan banyak pihak dalam program-program MB merupakan kebutuhan urgen demi membangun kepercayaan diri warga yang turut berkontribusi sampai ikut melaksanakan dan merayakannya,” jelas Jimpe.
MB juga menjelma ruang informal pendidikan seni dalam jangka yang panjang. Tiga puluhan seniman dari lima kota akan berpameran bersama seniman-seniman dari jaringan nasional dan internasional. Setiap seniman didampingi oleh penulis dan dokumentator. Keduanya bertugas merekam model dan metode seniman bersangkutan untuk kemudian disebar secara daring (online) dan luring (cetak) untuk disebar ke khalayak luas dan menjadi arsip yang dapat diakses dan dipelajari.
Tentang Makassar Biennale 2023
Maritim:
“Sekapur Sirih”
2021
Sejak awal tahun 2020, ketika COVID-19 mulai mengunci aktivitas penduduk bumi, Makassar Biennale berkomitmen untuk tetap menggelar ajang seni rupa internasional yang sudah dirintis tahun 2015 ini—kendati mungkin kelak dalam bentuk yang belum pernah kami kerjakan sekalipun.
Geliat masa pandemi bermula pada pertengahan paruh awal 2020, kami bekerja sama dengan Jakarta Biennale, Biennale Jogja, dan SAM Fund menggelar Panggilan Terbuka Karya New Normal Baru (https://makassarbiennale.org/panggilan-terbuka- proposal-karya-normal-baru/). Sekisar 200-an proposal masuk ke Tim Pelaksana. Ketiga biennale memilih 10 (sepuluh) karya. Daftar karya yang terpilih untuk
Makassar Biennale bisa Anda simak lewat tautan 10 Karya Normal Baru MB (https://makassarbiennale.org/mb2021/10-karya-normal-baru/).
Yang menarik bahwa, tentu, bukan hanya membaca siasat para perupa ini menghadapi situasi baru yang menghilangkan interaksi
tatap-muka (offline) yang selama ini berlangsung dalam dunia seni secara umum. Pengalaman ini juga menandai satu era baru dalam tradisi kerja sama antar biennale di Indonesia.
Tentang Makassar Biennale 2021
Maritim:
“Migrasi – Sungai – Kuliner”
2019
Pada pelaksanaan tahun 2019, Makassar Biennale melebarkan jangkauan publik dan proses dialog-belajar di empat wilayah di dua provinsi, yakni Kota Makassar, Parepare, Bulukumba (Sulawesi Selatan), dan Tinambung & Pambusuang di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Parepare adalah kota pelabuhan utama kedua di Sulawesi Selatan setelah Makassar. Di Pelabuhan Cappa Ujung, Parepare, sejak lama berlangsung perdagangan dan migrasi dari dan menuju Sulawesi bagian selatan. Wilayah kedua, Bulukumba adalah kawasan yang dikenal sejak lama menjadi sentra pembuatan kapal pinisi. Sementara di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Makassar Biennale berproyeksi melebarkan lokasi belajar di dua komunitas, yakni Uwake (kelompok masyarakat yang berkonsentrasi pada sungai utama di wilayah ini, Sungai Mandar, Tinambung) dan Nusa Pustaka (perpustakaan di Desa Pambusuang yang selama ini menyediakan bacaan bagi masyarakat pesisir).
Tentang Makassar Biennale 2019
Maritim
2017
Maritim dipilih menjadi tema utama Makassar Biennale tahun ini. Partisipasi, interaksi serta kolaborasi Para Perupa dengan Warga sekitar juga menjadi kemasan yag disiapkan oleh panitia. Dengan bertebarannya kantong-kantong komunitas setelah digelarnya Biennale pertama di kota ini, lebih banyak konten yang siap disajikan di awal November ini nantinya.
Menurut kurator MB 2017 yang juga penggagas Pustaka Bergerak ini, Nirwan Ahmad Arsuka beberapa hari lalu pada Press Conference Biennale 3 kota Indonesia, “Makassar harus berjuang mendefinisikan dirinya, merumuskan karakternya agar tak menjadi sekadar pengekor dari Biennale yang sudah ada,. Perlu juga digarisbawahi dalam Biennale ini adalah ‘Maritim’ tidaklah bermakna sebatas wilayah perairan laut, melainkan ‘maritim’ dalam pengertian ekosistem—meliputi sungai dan pegunungan.
Tentang Makassar Biennale 2017